Hare Krishna Bukan Hindu?

02/21 Off By admin

Tidak juga kata-kata tersebut ditemukan dalam setiap teks-teks Buddha atau Jain, atau salah satu dari 23 bahasa resmi India. Pengikut Gerakan Hare Krishna adalah salah satu kelompok yang paling asketik. Kode etik dan moral yang diterapkan dalam perguruan ini sangat ketat. Para anggota harus menjalankan empat prinsip, yaitu dilarang mabuk-mabukan (minum minuman keras dan/atau menggunakan obat-obatan terlarang), melakukan seks bebas, mencuri dan makan daging, ikan serta telor disamping aturan-aturan lainnya yang tidak kalah ketatnya.

Lebih lanjut, Prof Sudiana juga mengimbau semua pihak yang menyampaikan masukan agar menghindarkan hujatan dan kata-kata yang mendiskreditkan dan tetap shanti, walaupun ada perbedaan pandangan soal-soal tertentu tentang agama Hindu. Rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si yang berlangsung dari Pukul 14.00 sampai 17.00 Wita ini, tercatat menghasilkan beberapa keputusan selain mengagendakan pemanggilan terhadap ISKCON dan Hare Krishna untuk mengklarifikasi polemik yang viral di Medsos. Sebelum tahun 1984 dan tahun ini dan ini yang lebih parah daripada yang dulu.

Cegah Pungli Merebak Di Masyarakat, Begini Yang Dilakukan Badung.

Namun meskipun demikian, pertumbuhan pengikut ajaran ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Untuk membangun tempat suci lila transendental bagi para anggota dan masyarakat secara luas yang didedikasikan kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Krishna. “Tolong Pimpinan Yayasan ISKCON sampaikan kepada seluruh anggotanya untuk tidak melakukan kegiatan Hare Krisna di tempat-tempat umum, cukup di Ashram saja,” ucapnya. “Tolong Pimpinan Yayasan ISKCON sampaikan kepada seluruh anggotanya untuk tidak melakukan kegiatan Hare Krisna di tempat-tempat umum, cukup di Ashram saja.

I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si mengatakan berdasarkan hasil rapat Tim Komunikasi, Mediasi dan advokasi PHDI Bali dengan Ormas Keagamaan Hindu dan ISKCON pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2020. Sebagaimana diketahui, belakangan ini kerap kali dunia maya khususnya di grup-grup facebook di Bali dihebohkan dengan postingan foto dan video clip kontroversi dan berbau provokasi yang berisi kegiatan-kegiatan para penganut aliran Hare Krishna di Bali. Karena dinilai aneh dan diluar kebiasaan umat Hindu di Bali, postingan-postingan menyangkut Hare Krishna begitu cepat viral dan di share oleh para netizen sehingga menimbukan suasana menjadi panas. Sesuai mekanismenya, ia menjelaskan tiap persoalan yang bernilai penting dan memiliki pengaruh luas di masyarakat akan dikaji oleh sabha walaka.

Reaksi Iskcon Terhadap Demo Menentang Hare Krishna

Kita harus menjaga kerukunan antarsesama maupun antarumat beragama dengan mengedepankan sikap saling asah, asih, dan asuh,” tegasnya. Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali mendesak PHDI Pusat agar segera menyikapi polemik mengenai keyakinan Hare Krishna yang marak di Pulau Dewata. Ketua PHDI Bali Prof. IGN Sudiana menyebutkan hal itu Minggu (2/8/2020). Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya. Banyak ahli merasa bahwa nama “Hindu” telah dikembang pihak lain, para penyerbu yang tidak bisa menyebut nama Sungai Sindhu dengan baik. Menurut Sir Monier Williams, leksikografer Sanskerta, anda tidak dapat menemukan akar pribumi untuk kata-kata Hindu atau India.

  • Seperti negara agama Zorastrime, kata tampaknya mengambil makna yang menghina.
  • Lokasi di mana kata “Hindu” terjadi untuk apa beberapa orang merasa pertama kalinya dalam Avesta dari Iran dalam deskripsi negara Berita ISKCON Hare Krishna dan rakyatnya.
  • Dikatakan bahwa, “Selain itu, benar bahwa nama ini telah diberikan kepada ras Arya asli daerah penyerbu Muslim untuk mempermalukan mereka.
  • Dan tentu saja sebagai mana Islam menyebar di India, kata “Hindu” dan “Hindustan” menjadi semakin tidak dihormati dan bahkan dibenci di arena Persia, dan lebih menonjol dalam sastra Persia dan Arab setelah abad ke-11.
  • Dalam bahasa Persia, kata penulis kami, kata tersebut berarti budak, dan menurut Islam, semua orang yang tidak memeluk Islam disebut sebagai budak.

Pria yang juga Rektor IHDN ini berharap agar masyarakat tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu ketertiban umum dan melawan hukum. “Semua pihak agar tetap tenang serta jangan mudah terpancing isu-isu di medsos yang dapat memperkeruh keadaan.